Kemitraan Epistemik dalam Perlindungan Santri: Transformasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Pesantren

##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Siti Rofiah

Abstract

This article examines how power relations and the manipulation of religious language within pesantren can produce epistemic injustice for students who experience sexual violence, while formulating an internally grounded model of institutional transformation. The study employs a qualitative design combining the author's critical autoethnography as an insider researcher at PPTI Al-Falah Salatiga with thematic analysis of five public Tadarus Subuh forums (episodes 192-196), triangulated through regulations, national research, academic studies, and relevant publicly documented cases. The findings identify three mechanisms that weaken victims' epistemic standing: theological or ritual legitimation of exploitative relations, misuse of cultures of obedience and khidmah (service), and spiritual intimidation combined with institutional reputation-protection that obstructs reporting. In response, the study develops an epistemic partnership framework that brings religious authority, interdisciplinary professional knowledge, and students' or survivors' lived experiences into dialogue as legitimate sources of knowledge. The framework is institutionalized through three interconnected dimensions: curriculum reorientation toward body literacy and sexuality education; structural reform through women's leadership, standard operating procedures, confidential reporting channels, and external partnerships; and cultural change through clear relational boundaries and reciprocal, dignity-preserving forms of khidmah. The study implies that regulatory compliance alone is insufficient without institutional accountability and courage. Its originality lies in connecting epistemic-injustice theory with internal pesantren reform through an epistemic partnership model that can be tested through future comparative research.

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

How to Cite
Rofiah, S. (2026). Kemitraan Epistemik dalam Perlindungan Santri: Transformasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Pesantren. Tashwirul Afkar, 45(01), 107–126. https://doi.org/10.51716/ta.v45i01.749


Section
Articles

References

Adams, T. E., Holman Jones, S., & Ellis, C. (2015). Autoethnography: Understanding qualitative research [Autoetnografi: Memahami penelitian kualitatif]. Oxford University Press.

Afkaruna.id. (2026a, May 24). Tadarus Subuh 192: Berani berkaca: Otokritik pesantren atas kekerasan seksual [Video].

Afkaruna.id. (2026b, May 31). Tadarus Subuh 193: Berani berkaca: Otokritik pesantren atas kekerasan seksual [Video].

Afkaruna.id. (2026c, June 7). Tadarus Subuh 194: Bagaimana pesantren menangani kekerasan seksual? [Video].

Afkaruna.id. (2026d, June 28). Tadarus Subuh 195: Fondasi akhlak di pesantren sebagai dasar relasi sehat dan upaya menangkal kekerasan seksual [Video].

Afkaruna.id. (2026e, July 5). Tadarus Subuh 196: Ikhtiar bersama untuk pesantren ramah, aman, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan [Video].

Alfedo, J. M., Nugraha, X., & Putri, D. E. K. (2022). Islamic sex education program: Transformasi pendidikan pesantren guna mencegah terjadinya kekerasan seksual di kalangan santri. Mizan: Journal of Islamic Law, 6(1), 119-134. https://doi.org/10.32507/mizan.v6i1.1197

Aliansi Remaja Independen. (2025). Potret kekerasan seksual terhadap santri di lingkungan pesantren di Indonesia.

Barker, C., Ford, S., Eglinton, R., Quail, S., & Taggart, D. (2023). The truth project paper one: How did victims and survivors experience participation? Addressing epistemic relational inequality in the field of child sexual abuse [Proyek Kebenaran bagian satu: Bagaimana korban dan penyintas mengalami partisipasi? Mengatasi ketimpangan relasional epistemik dalam bidang kekerasan seksual terhadap anak]. Frontiers in Psychiatry, 14, 1128451. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2023.1128451

Boylorn, R. M., & Orbe, M. P. (Eds.). (2021). Critical autoethnography: Intersecting cultural identities in everyday life [Autoetnografi kritis: Persilangan identitas budaya dalam kehidupan sehari-hari] (2nd ed.). Routledge.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology [Menggunakan analisis tematik dalam psikologi]. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Candraningrum, D., & Faruq, E. R. (2026). Religious authority and sexual violence: Examining coercive modalities in Indonesian pesantren [Otoritas keagamaan dan kekerasan seksual: Menelaah modus-modus koersif di pesantren Indonesia]. The International Journal of Critical Cultural Studies, 24(2), 211-233. https://doi.org/10.18848/2327-0055/CGP/A241

Chanifah, N., Ikhsan, M. A., Syaikhoni, & Luth, T. (2025). Strengthening student sexual literacy to prevent violence in Indonesian Islamic boarding schools [Memperkuat literasi seksual santri untuk mencegah kekerasan di pesantren Indonesia]. Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 9(2), 310-331. https://doi.org/10.21776/ub.waskita.2025.009.02.10

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. (2022). Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 4836 Tahun 2022 tentang Panduan Pendidikan Pesantren Ramah Anak.

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. (2024). Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1262 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Pengasuhan Ramah Anak di Pesantren.

Dotson, K. (2011). Tracking epistemic violence, tracking practices of silencing [Melacak kekerasan epistemik, melacak praktik pembungkaman]. Hypatia, 26(2), 236-257. https://doi.org/10.1111/j.1527-2001.2011.01177.x

Faishol, M., Wasino, Fakhruddin, Asrori, & A'yun, S. Q. (2026). Amplifying silent voices: A qualitative study of female Islamic boarding school leaders' (Nyai) perspectives on preventing gender-based violence in Indonesia [Memperkuat suara yang dibungkam: Studi kualitatif tentang perspektif pemimpin perempuan pesantren (nyai) dalam mencegah kekerasan berbasis gender di Indonesia]. Frontiers in Education, 11, 1833128. https://doi.org/10.3389/feduc.2026.1833128

Fricker, M. (2007). Epistemic injustice: Power and the ethics of knowing [Ketidakadilan epistemik: Kuasa dan etika mengetahui]. Oxford University Press.

Fuadi, M. A., Rosyadi, M. H., Marintan, M. A., Mahanani, Q. F. I., & Aslambik, M. (2024). Prevention effort of sexual violence from power inequality relations in Islamic boarding schools in Indonesia [Upaya pencegahan kekerasan seksual dari ketimpangan relasi kuasa di pesantren Indonesia]. Harmoni, 23(1), 1-17. https://doi.org/10.32488/harmoni.v23i1.720

Gómez, J. M., Freyd, J. J., Delva, J., Tracy, B., Mackenzie, L. N., Ray, V., & Weathington, B. (2023). Institutional courage in action: Racism, sexual violence, & concrete institutional change [Keberanian institusional dalam tindakan: Rasisme, kekerasan seksual, dan perubahan institusional konkret]. Journal of Trauma & Dissociation, 24(2), 157-170. https://doi.org/10.1080/15299732.2023.2168245

Jamaludin, A. (2025). Institutional approach: Legal protection efforts against sexual violence in Islamic boarding school educational institutions [Pendekatan institusional: Upaya perlindungan hukum terhadap kekerasan seksual di lembaga pendidikan pesantren]. Khazanah Hukum, 7(1), 1-16. https://doi.org/10.15575/kh.v7i1.34254

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama. https://peraturan.go.id/id/permenag-no-73-tahun-2022

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Agama Nomor 83 Tahun 2023 tentang Pedoman Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama.

Kisbiyanto. (2025). Enforcement gaps in child protection law: Managing strategy of violence on students in Islamic boarding schools and the limits of legal compliance in Indonesia [Celah penegakan hukum perlindungan anak: Strategi pengelolaan kekerasan terhadap santri dan batas kepatuhan hukum di Indonesia]. Khazanah Hukum, 7(3), 392-416. https://doi.org/10.15575/kh.v7i3.43929

Medina, J. (2013). The epistemology of resistance: Gender and racial oppression, epistemic injustice, and resistant imaginations [Epistemologi perlawanan: Penindasan gender dan ras, ketidakadilan epistemik, dan imajinasi resistensi]. Oxford University Press.

Muafiah, E., Sofiana, N. E., & Khasanah, U. (2022). Pesantren education in Indonesia: Efforts to create child-friendly pesantren [Pendidikan pesantren di Indonesia: Upaya mewujudkan pesantren ramah anak]. Ulumuna, 26(2), 447-471. https://doi.org/10.20414/ujis.v26i2.558

Nazaruddin, A. (2026, May 7). Izin Ponpes Ndolo Kusumo Pati dicabut buntut kasus kekerasan seksual. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/5558556/izin-ponpes-ndolo-kusumo-pati-dicabut-buntut-kasus-kekerasan-seksual

Nisamairo, Q. K., Nadhiroh, S. R., Salim, L. A., & Isfandiari, A. (2024). Reproductive health of female students in Islamic boarding school culture: A literature review [Kesehatan reproduksi santriwati dalam budaya pesantren: Tinjauan literatur]. African Journal of Reproductive Health, 28(10), 259-272. https://doi.org/10.29063/ajrh2024/v28i10s.30

Ocsya Ade CP. (2026, June 30). Modus nikah siri, pengasuh ponpes di Kalbar dilaporkan setubuhi anak. detikKalimantan. https://www.detik.com/kalimantan/hukum-dan-kriminal/d-8553382/modus-nikah-siri-pengasuh-ponpes-di-kalbar-dilaporkan-setubuhi-anak

Pebriaisyah, B. F., Wilodati, W., & Komariah, S. (2022). Kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan: Relasi kuasa kyai terhadap santri perempuan di pesantren. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 12(1), 1-14. https://doi.org/10.17509/sosietas.v12i1.48063

Project Multatuli. (2022, November 4). Saya adalah korban Bechi: Kasus ini seharusnya menjadi kasus kekerasan seksual sistemik Ponpes Shiddiqiyyah. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/saya-adalah-korban-bechi-kasus-ini-seharusnya-menjadi-kasus-kekerasan-seksual-sistemik-ponpes-shiddiqiyyah/

Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. https://peraturan.go.id/id/uu-no-12-tahun-2022

Smith, C. P., & Freyd, J. J. (2013). Dangerous safe havens: Institutional betrayal exacerbates sexual trauma [Tempat aman yang berbahaya: Pengkhianatan institusional memperparah trauma seksual]. Journal of Traumatic Stress, 26(1), 119-124. https://doi.org/10.1002/jts.21778

Smith, C. P., & Freyd, J. J. (2014). Institutional betrayal [Pengkhianatan institusional]. American Psychologist, 69(6), 575-587. https://doi.org/10.1037/a0037564

Triana, W., Noor, H., Nasir, N. M., Jannah, A. N., Billahi, S., Rachmanda, G. S. P., Ruswandi, B., Faiz, F. F., Ibmar, D., & Dwikasari, C. (2025). Menuju pesantren ramah anak: Pemetaan ketahanan dan kerentanan santri terhadap kekerasan. Penerbit A-Empat.